//*

Newest Post

Ki Hajar Dewantara

| Sabtu, 03 Juni 2017
Read more »
                          

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai pelopor pendidikan untuk masyarakat pribumi di Indonesia ketika masih dalam masa penjajahan Kolonial Belanda. Ki Hajar Dewantara sendiri, beliau terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Beliau sendiri lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889, Hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau sendiri terlahir dari keluarga Bangsawan, ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, yang merupakan cucu dari Pakualam III. Terlahir sebagai bangsawan maka beliau berhak memperoleh pendidikan untuk para kaum bangsawan. Namun, beliau melepas gelar kebangsawanannya dan mengganti namanya pada usia 40 tahun. Beliau ingin menyatu dengan orang kebanyakan. Raden Mas ditanggalkan, ia memilih nama Ki Hajar Dewantara yang berasal dari kata hadjar berarti guru dan Dewa Antara yang bermakna penghubung Bumi dan dunia yang lebih tinggi.

Mulai Bersekolah dan Menjadi Wartawan
Ia pertama kali bersekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan. Selepas dari ELS ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, yang kini dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Meskipun bersekolah di STOVIA, Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat sebab ia menderita sakit ketika itu.
Ki Hadjar Dewantara cenderung lebih tertarik dalam dunia jurnalistik atau tulis-menulis, hal ini dibuktikan dengan bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Gaya penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam mencerminkan semangat anti kolonial. Seperti yang ia tuliskan berikut ini dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker :
Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.
Tulisan tersebut kemudian menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda kala itu yang mengakibatkan Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan kemudian ia diasingkan ke pulau Bangka dimana pengasingannya atas permintaannya sendiri. Pengasingan itu juga mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal sebagai 'Tiga Serangkai'. Ketiganya kemudian diasingkan di Belanda oleh pemerintah Kolonial.
Masuk Organisasi Budi Utomo
Berdirinya organisasi Budi Utomo sebagai organisasi sosial dan politik kemudian mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk bergabung didalamnya, Di Budi Utomo ia berperan sebagai propaganda dalam menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia. Munculnya Douwes Dekker yang kemudian mengajak Ki Hadjar Dewantara untuk mendirikan organisasi yang bernama Indische Partij yang terkenal.
Di pengasingannya di Belanda kemudian Ki Hadjar Dewantara mulai bercita-bercita untuk memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. Ia berhasil mendapatkan ijazah pendidikan yang dikenal dengan nama Europeesche Akte atau Ijazah pendidikan yang bergengsi di belanda. Ijazah inilah yang membantu beliau untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang akan ia buat di Indonesia. Di Belanda pula ia memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
Pada tahun 1913, Ki Hadjar Dewantara kemudian mempersunting seorang wanita keturunan bangsawan yang bernama Raden Ajeng Sutartinah yang merupakan putri paku alaman, Yogyakarta. Dari pernikahannya dengan R.A Sutartinah, Ki Hadjar Dewantara kemudian dikaruniai dua orang anak bernama Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram. Selama di pengasingannya, istrinya selalu mendampingi dan membantu segala kegiatan suaminya terutama dalam hal pendidikan.
Kembali Ke Indonesia dan Mendirikan Taman Siswa
Kemudian pada tahun 1919, ia kembali ke Indonesia dan langsung bergabung sebagai guru di sekolah yang didirikan oleh saudaranya. Pengalaman mengajar yang ia terima di sekolah tersebut kemudian digunakannya untuk membuat sebuah konsep baru mengenai metode pengajaran pada sekolah yang ia dirikan sendiri pada tanggal 3 Juli 1922, sekolah tersebut bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa yang kemudian kita kenal sebagai Taman Siswa.
Di usianya yang menanjak umur 40 tahun, tokoh yang dikenal dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat resmi mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, hal ini ia maksudkan agar ia dapat dekat dengan rakyat pribumi ketika itu.
Semboyan Ki Hadjar Dewantara
Ia pun juga membuat semboyan yang terkenal yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu :
Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh).
Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat).
Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan).
Penghargaan Pemerintah Kepada Ki Hadjar Dewantara
Selepas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, Ki Hadjar Dewantara kemudian diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri pengajaran Indonesia yang kini dikenal dengan nama Menteri Pendidikan. Berkat jaa-jasanya, ia kemudian dianugerahi Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada.
Selain itu ia juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh presiden Soekarno ketika itu atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan bangsa Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menetapkan tanggal kelahiran beliau yakni tanggal 2 Mei diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara Wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Wajah beliau diabadikan pemerintah kedalam uang pecahan sebesar 20.000 rupiah.





Sumber :
https://nordiananatasyacom.blogspot.co.id/2016/10/pahlawan-ku-ki-hajar-dewantara.html

Ki Hajar Dewantara

Posted by : Fahmi Kun
Date : Sabtu, Juni 03, 2017
With 0Komentar

IBD : R.A Kartini

|
Read more »
Judul Buku : R.A Kartini
Biografi Singkat 1879-1904
Nama Pengarang : Imron Rosyadi

 
Kartini adalah seorang perempuan pejuang harkat wanita agar tidak terpasung dalam tembok tradisi masyarakat Jawa yang begitu kukuh membatasi ruang geraknya. Ia ingin membebaskan penderitaan wanita dari tradisi pelarangan belajar, pingitan, hingga harus siap dipoligami oleh suami dengan alih-alih berbakti. Kartini ingin mengubah tradisi ini demi kemajuan kaumnya mengangkat derajat perempuan, menuju masa depan yang lebih cerdas, bebas, cemerlang, dan merdeka. Untuk itu, ia berusaha mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan yang secara tidak langsung akan meningkatkan martabat bangsa. Sebab, “Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata.” -Pramoedya Ananta Toer-
 Kartini lahir di Mayong, Jepara, 21 April 1879. Ia lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya adalah seorang Bupati Jepara, yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sedangkan ibunya bernama M. A. Ngasirah. Ayahanda R. A. Kartini (Sosroningrat) adalah bupati berpendidikan yang pandai menulis dan berbahasa Belanda. Sehingga tak heran jika seorang sejarahwa M.C. Ricklefs menyebut ayahanda Kartini sebagai “one of the most enlightened of Java’s Bupatis” (salah satu bupati yang berpikiran maju di Jawa).
Kala itu, pemerintah kolonial mengharuskan seorang bupati memperistri perempuan yang berlatar belakang bangsawan. Sedangkan ibunda Kartini (Ngasirah) bukan lah bangsawan, sehingga Ayahanda Kartini (Sosroningrat) menikah lagi dengan Raden Ayu Muryam yang merupakan keturunan Raja Madura. Istri kedua inilah yang kemudian menjadi garwa padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil. Keadaan ini mengharuskan Kartini menerima kehadiran ibu dan saudara-saudara tiri di sampingnya. Seluruh keluh kesah dan penderitaannya ia tuangkan dalam surat tertanggal 21 Desember tahun 1900.
Kartini adalah figur seorang wanita idealis yang visioner. Ia selalu mendambakan dan memperjuangkan nasib wanita supaya dapat mengaktualisasi diri melalui pendidikan yang maksimal. Ia mampu membagi visi, melakukan lobi-lobi, dan membina kerja sama dengan orang-orang yang berpengaruh. Ia aktif menulis surat dengan sahabat penanya yang sebagian besar adalah orang Belanda. Sahabat pena Kartini seperti: Stella M. Zeehandelaar (seorang aktivis gerakan sosialis di Belanda), Ir. H.H Van Kol (tokoh sosialis Belanda) dan nyonya, Nyonya M.C.E Ovink (istri asisten residen yang pernah bertugas di Jepara), Dr. N. Adriani (ahli Bahasa), Nyonya Civink Soer, Tuan Prof. Anton dan Nyonya, Tuan E. C Abendanon (direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda) dan Nyonya, serta Nina Zeehandelar.
Selain surat menyurat Kartini juga banyak belajar dari buku-buku Eropa, karena ia tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Buku yang ia baca seperti, Max Hevelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht karya Louis Coperus, buku bermutu tinggi karya Van Eeden, buku karya Augusta de Witt, buku roman-feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek, dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder. Dari buku-buku itulah timbul keinginan Kartini untuk memajukan perempuan pribumi, di saat kondisi sosial perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Pada Juni 1903, Kartini memasuki usia 24 tahun. Tiba-tiba ayahandanya (Bupati Sosroningrat) menerima utusan Bupati Djojo Adiningrat dari Rembang yang membawa surat lamaran untuk Kartini. Kartini tak berdaya menghadapi cobaan ini. Ia harus menyetujui saran ayahnya untuk menikah karena kedua bupati ini saling mengenal baik. Toh di Rembang Kartini masih bisa meneruskan cita-citanya untuk membuka sekolah. Ironisnya, sang bupati calon suami Kartini sudah mempunyai tujuh anak, dan masih memiliki dua istri, seorang Raden Ayu, telah meninggal dunia, sementara dua istrinya bukan dari kalangan bangsawan. Karena itu, ia ingin menikahi Kartini, untuk menggantikan posisi istri pertamanya.
Pengalaman hidup Kartini yang penuh pertentangan antara cita-cita dan kenyataan berhasil memaksanya untuk merumuskan ulang dirinya dalam menerima kenyataan. Pernikah poligami ini contohnya. Setelah menjadi istri Bupati Rembang, hari-harinya tak ubahnya istri biasa; mengurus suami dan anak (tirinya). Ia memang mendirikan sekolah, tapi tak seberhasil ketika di Jepara. Pada 13 September 1904 ia melahirkan anak yang dinamai Soesalit. Empat hari kemudian, pada 17 September 1904, Kartini menghembusakan napas terakhir akibat proses melahirkan yang tak mulus. Seperti apa yang ia ramalkan sendiri, melepas cita-cita memang benar-benar membuatnya binasa

Nilai-nilai yang terdapat pada buku ini adalah sebagai berikut.


Menghormati orangtua
Walapun memiliki pemikiran sendiri, RA Kartini tetap menghormati kepustusan orangtuanya. Salah satu buktinya ia enuruti permintaan orangtuanya untuk tidak melanjutkan sekolah. Baginya bila menuruti kata hatinya, itu berarti merusakkan hati orangtuanya.

Selalu optimis dan melihat kedepan
Ketika orang memandang suatu cita – cita degan segala keadaan dengan baik dan tidak berburuk sangka, tidak mudah lemah akan cita – citanya maka, RA Kartini percaya cita- cita tersebut akan dapat tercapat. Beliau orang yang selalu mengagung – agungkan masa silamnya dan puas dengan pencapaiannya dulu, karena mereka yang mempunyai sifat seperti itu seakan puad dengan hanya membanggakan nenek moyang jaman dahulu.

Sederhana dan Rajin
Dengan pandangannya yang tidak memperdulikan status RA Kartini mudah bergaul dengan siapa saja dan tetap menjalani hidup sederhana walapun merupakan anak seorang bangsawan. Terbukti saat pernikahannya walapun menikah dengan sesame bangsawan RA Kartini memilih tidak mengadakan pesta dan bahkan tidak memakai pakaian pengantin. Baginya hidup dalam kesederhanaan, kehematan akan mencegah kesengsaraan dimasa mendatang. RA KArtini juga termasuk sosok yang rajin, walapun dia tidak bersekolah tetapi semangat belajarnya masih tinggi dengan membaca buku-buku dan Koran.

IBD : R.A Kartini

Posted by : Fahmi Kun
Date : Sabtu, Juni 03, 2017
With 0Komentar
Next Prev
▲Top▲